Selamat Datang di Blog Saya

Selamat datang di blog saya. anda telah memilih referensi yang benar. Saya ucapkan banyak terima kasih atas kesempatan yang diberikan Anda kepada saya untuk berkata tentang Wisata khususnya dan Tautan lain yang memungkinkan. Terima Kasih. Ali Okah

Senin, 07 Desember 2009

Juragan


Cerpen
RENTENIR YANG KEJAM

Hiduplah seorang rentenir dengan nama Parman. Orang-orang bisaa memanggilnya dengan sapaan Juragan Parman. Hampir lima tahun ia berprofesi sebagai rentenir. Setiap harinya ia berkeliling kampung untuk menagih hutang kepada para peminjam. Juragan Parman terkenal sebagai rentenir yang suka meminjamkan uangnya dengan bunga yang mencekik leher, sehingga hal itu mengakibatkan para peminjam terasa sangat terbebani.
Pak Sukiman, tetangga Juragan Parman, sehari-harinya bekerja sebagai tukang becak. Bisaanya dia mencari penumpang di pangkalan becak dekat pasar yang tidak jauh dari rumahnya. Penghasilan Pak Sukiman tergolong sangat rendah. Bahkan untuk menghidupi istri dan empat anaknya yang masih kecil-kecil saja, masih belum cukup. Ibu Rasti, istri Pak Sukiman, setiap harinya berjualan gorengan keliling kampung.
Suatu ketika, Ibu Rasti sedang menjajakkan dagangannya di pinggiran jalan kepada orang-orang yang sedang berlalu lalang.
“Gorengan…….Gorengan….. tahu…tahu….tempe…tempe…bakwan, pisang goreng, pisang gorengnya , Bu….., Gorengannya Bu !!”
“Bu beli Bu…?”
Tidak satupun orang yang kunjung membeli dagangannya. Namun Bu Rasti tidak patah semangat. Dia selalu menawarkan dagangannya dengan penuh percaya rejekinya akan datang nanti. 3
Tiba-tiba terdengar suara orang yang hendak membeli gorengan dari seberang jalan. Bu Rasti, yang kelihatannya sudah cape sekali, cepat-cepat hendak menyebrang jalan untuk melayani pembeli itu. Namun tiba-tiba terdengar klakson mobil dan suara rem yang panjang dan mendadak. Kecelakaanpun tak dapat dihindari.
Pagi itu menjadi pagi yang kelam bagi Bu Rasti. Bu Rasti Tergeletak di jalan dan seketika itu Bu Rasti pun pingsan dan bersimbah darah.
Setelah dibawa ke rumah sakit oleh orang-orang yang lewat. Satu dari mereka ada yang mengenal Bu Rasti dan dia langsung mengawari suaminya. Pak Sukiman pun datang dengan tergesa-gesa dan panik.
Setelah keadaaan mualai tenang dan Bu Rasti sudah di tangani di ICU, Pak Sukiman mulai bingung. Kemana harus ia mencari biaya untuk pengobatan istrinya. Padahal untuk makan saja susuah.
Juragan Parman pun langsung mendatangi Pak Sukiman untuk menawarkan bantuan berupa pinjaman uang tapi dengan bunga tinggi. Pada awalnya, Pak Sukiman keberatan dengan bunga yang begitu tingginya. Namun tidak ada jalan lain baginya untuk mendapatkan uang pengobatan istrinya padahal pihak rumah sakit acap kali menanyakan tentang administrasi dan biaya-biaya. Akhirnya Pak Sukiman menerima juga tawaran Juragan Parman karena terpaksa dan iba melihat istrinya sudah lama berbaring di ruang ICU.
Keadaan istrinya pun mulai membaik dan dokter telah mengizinkannya untuk beristirahat di rumah.
Setelah selang waktu tiga bulan, Juragan Parman datang untuk menagih hutang beserta bunga yang sudah tiga kali lipat pada Pak Sukiman. Namun Pak Sukiman tidak bisa berbuat banyak, sungguh malang nasib Pak Sukiman. Dia hanya bisa menjanjikan pada Juragan Parman bahwa dia akan membayar semua hutang-hutangnya bulan depan. Juragan Parman merasa kesal pada Pak Sukiman dan mengancam akan menyita rumah dan isinya jika bulan depan Pak Sukiman belum bsa membayar lunas.
Dan pada bulan ke empat Juragan Parman datang kembali untuk menagih hutang kepada pak Sukiman.
“Sukiman!, Keluar kamu !!” Seru Jurahan Parman sambil mendobrak pintu dan dikawal oleh beberapa pegawai pribadinya.
“Mana, Uang yang telah Kamu janjikan?” kata Sang Juragan.
Pak Sukiman menjawab, “Maaf …Juragan. Saya …saya……”
“Diam!, dasar Cuma alasan!!!” kata Juragan. Lalu Juragan naik pitam, akhirnya Juragan Parman memerintahkan anak buahnya untuk menghajar Pak Sukiman. Dengan seketika anak buahnya langsung mengahajar Pak Sukiman hingga pingsan. Sedangkan Juragan Parman membawa istri Sukiman dengan paksa ke kamar. Kemudian tragedi itu pun terjadi. Istri Pak Sukiman diperkosa oleh Juragan Parman.
Sembilan bulan kemudian lahirlah seorang anak laki-laki dari rahim Ibu Rasti.
Setelah anak itu beranjak dewasa, penduduk mencemooh anak itu dengan sebutan Si Anak Jaddah. Ibu Rasti merasa sangat terhina dan merasa sakit hati, terutama kepada Si Juragan Parman. Tetapi di sisi lain Ibu Rasti tidak sampai hati untuk membenci Juragan Parman yang di juluki Si Lintah Darat Itu. Karena Ia telah memberi bantuan kepada Ibu Rasti yang tidak mungkin terlupakan olehnya di saat dia tergeletak di rumah sakit berupa bantuan pinjaman uang untuk membayar biaya-biaya yang tidak murah bagi keluarganya.
Walaupun Si Anak Jaddah lahir tanpa ayah, tetapi si anak itu masih beruntung karena si anak itu masih merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Kadang Bu Rasti Menyesalkan nasib anak itu karena tidak bisa merasakan belaian kasih sayang dari seorang ayah.
Dengan berjalannya waktu, Si Anak Jaddah dapat di terima oleh masyarakat dan Ibu Rasti selalu mencoba melupakan perbuatan biadab yang Juragan Parman lakukan kepanya. Dan Ia selalu berdoa agar Juragan Parman kembali ke jalan yang benar. Walaupun dalam hati Bu Rasti sangat membenci Juragan Parman. Tetapi di sisi lain Juragan Parman telah menyelamatkan nyawanya yang hampir melayang, jika saat itu Juragan Parman tidak meminjamkan uang untuk membayar biaya rumah sakit yang begitu besar baginya dan keluarganya.
Bu Rasti yakin bahwa sejahat apa pun seseorang pasti dia memiliki sedikit kasih sayang dan hati nurani yang akan bisa merubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar